Kapribaden Header
Home Romo Herucokro Semono Kapribaden Organisasi Pengalaman Sejati Tanya Jawab F.A.Q. Kontak
 
Home » Kapribaden » Buku Hidup Bahagia » Halaman 22
 
Buku Hidup Bahagia
   
Halaman : [1] ... [20] [21] [22] [23] [24] ... [33]
 

 

H a m b a t a n

Hambatan utama dalam menjalani itu semua adalah diri anda sendiri.

Makin pandai orangnya, makin besar pula hambatannya. karena otaknya makin pandai membantah dengan berbagai argumentasi, dan makin pandai pula membuat alasan untuk membenarkan dirinya (Aku-nya). Biasanya kalau sudah terbentur pada keadaan kehabisan akal, baru mau menyerah kepada kuasanya Hidup. Orang pandai, lama kehabisan akalnya.

Hambatan lain, apabila anda punya kekuasaan dan banyak uang. Seolah-olah segala kesulitan, persoalan, bisa anda atasi dengan kekuasaan dan atau uang anda.

Baru mau menyerah kepada kuasanya Hidup, kalau persoalan atau kesulitan yang dihadapi, tidak bisa diatasi dengan kekuasaan dan uang yang anda miliki.

Contoh tentang hal ini banyak sekali.

  1. Persoalan yang dihadapi menyangkut soal suami / isteri, atau anak.
    Kekuasaan yang anda miliki akan sangat berdaya terhadap ribuan orang lain, tetapi tidak berdaya terhadap keluarganya sendiri.

  2. Anda atau keluarga anda sakit. Selama dokter/ilmu kedokteran masih bisa membantu untuk menyembuhkan, anda akan menggunakan kekuasaan dan uang anda. Anda lalu menganggap semua bisa diatasi dengan kekuasaan dan uang . Tetapi, kalau dokter dan ilmu kedokteran sudah tidak sanggup, baru anda lari minta pertolongan orang tua, orang pinter. Jadi anda cari yang Gaib.


Padahal, tentram itu bukan kalau bisa mengatasi berbagai persoalan yang silih berganti, tetapi menjalani kehidupan dan penghidupan ini tanpa persoalan (atau sedikit sekali persoalannya). “Tentrem iku yen ora ono opo opo”.

Orang yang tenteram, tidak terlalu terombang-ambing oleh gelombangnya senang-susah, puas-kecewa, tetapi ada atau tidak ada apa apa, selalu diliputi rasa bahagia.

Segalanya dia jalani dengan sungguh sungguh, tetapi apapun hasilnya selalu dia serahkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untuk menentukan. Jelas kiranya, bahwa musuh utama dalam menjalani laku ini, adalah A K U.

“Aku”, sejak asalnya (“gawan bayi”) selalu berisikan :

  1. Kesombongan (arrogancy);
  2. Egoisme dan Egocentrisme (mementingkan diri sendiri dan memandang segala sesuatu hanya dari sudut pandangnya sendiri);
  3. Nafsu (lust);
  4. Angkara (kesrakahan);
  5. Kemalasan;
  6. Ketidak acuhan (ignorancy).

Sifat sifat “Aku” itu selalu bertentangan dengan sifat sifat Hidup (Ingsun).

Maka, kalau ingin bisa lancar menjalani laku ini, harus bisa mengalahkan “Aku” dalam diri kita masing masing.

 

Copyright © 2005-2026 Kapribaden - V.1.9. All rights reserved.