Selanjutnya, apa gunanya atau kapan digunakannya Mijil itu.
“Arep tumindak opo wae, Mijil”
(Mau berbuat atau melakukan apa saja, Mijil terlebih dahulu).
Mau makan, mau minum, mau buang air, mau mandi, mau bekerja, mau bepergian, mau nonton bioskop, pokoknya mau apa saja, Mijil dulu.
Contoh :
- Anda ingin pergi ke rumah seorang teman.
Anda Mijil dulu.
(Asmo, jeneng siro mijilo, panjenengan Ingsun kagungan karso, raganiro “mau pergi ke rumah Susanto”)
Lalu anda rasakan betul. Apa yang anda rasakan ? kalau rasanya mengatakan “jangan”, atau ada rasa yang berat, seperti menghambat, maka sebaiknya anda batalkan. Kalau anda tetap pergi, berbagai kemungkinan yang tidak enak akan terjadi. Misalnya teman anda Susanto tidak di rumah, atau anda mengalami kesulitan di jalan, atau kalaupun bertemu, pertemuan itu menghasilkan hal hal yang tidak mengenakkan, dan berbagai kemungkinan lain.
Kalau sesudah Mijil, lalu anda rasakan, dan rasanya mengatakan “ya”, atau merasa tidak ada hambatan, pergilah. Hasilnya akan mengakibatkan tentramnya semua pihak.
- Anda ingin nonton film ke teater.
Anda Mijil, ternyata setelah dirasakan, terasa seperti dihambat, atau tidak diijinkan. Sebaiknya rencana anda batalkan. Bisa terjadi, akan ada tamu, yang lebih penting dari nonton film. Sedang nonton film itu, bisa kapan saja (lain kali).
- Anda mau berurusan dengan seseorang.
Anda mijil dulu.
Kalau rasa mengatakan “jangan”, sebaiknya urusan dengan orang itu anda batalkan. Hidup lebih tahu dari anda.
Sekalipun menurut perhitungan anda urusan dengan orang itu akan menyenangkan, atau akan menguntungkan, tetapi kalau Hidup mengatakan “jangan”, biasanya akibat di kemudian harinya tidak baik
Dan macam macam contoh lain bisa diberikan. Semua itu, akan anda dapatkan sendiri, dari pengalaman dan kenyataan yang anda alami sendiri.
Maka, makin banyak kenyataan yang anda alami, bahwa Hidup itu selalu benar, anda akan makin yakin, bahwa mengikuti petunjuknya Hidup itu selalu baik dan benar.
Akhirnya, apapun akan dikatakan orang, bahkan apapun akan dikatakan oleh logika dan ratio anda sendiri, anda akan lebih percaya terhadap apa yang dikatakan Hidup.
Hidup tidak bisa berbuat jelek, tidak bisa salah.
Yang bisa berbuat jelek dan salah adalah manusianya.
Biasakanlah, mau berbuat apa saja, tidak lupa Mijil dulu. Anda akan membuktikan sendiri kebaikan dan kebenaran hidup. Baik untuk saat itu, maupun untuk kemudian.
|