Perlu diperhatikan juga :
Penghayatan ini bersifat pribadi. Jadi, karena tidak ada satupun kewajiban berupa Ritual, maka kalau anda menghayati Penghayatan ini, tak akan ada seorangpun tahu, kalau tidak anda beritahu.
Jadi, kekhawatiran bahwa anda akan diketahui menghayati sesuatu, padahal tidak anda inginkan, tidak perlu ada, lain halnya kalau anda sendiri memberitahukan.
“Asmo”, diberikan oleh Hidup kepada Hidup.
“M I J I L “ - Sarana Gaib III
Setelah Hidup anda diberi “Asmo”, maka oleh Kadhang yang memberi “Asmo” atau Kadhang lain yang ditugasinya, anda akan dituntun caranya “Mijil”.
Mijil di sini, bukan berarti keluar. Mijil di sini, artinya anda (Raganya / Manusianya), bisa Miji-hamijeni, Menyatu, bersambungan, dengan Hidup anda.
Kata-kata “Mijil” :
- (Asmo), jeneng siro mijilo, panjenengan Ingsun kagungan karso, arso . . . . . . . . . .
(Ini digunakan hanya dalam hal hal yang bersifat spiritual - Gulung)
- (Asmo) , jeneng siro mijilo, panjenengan Ingsun kagungan karso, raganiro arso . . . . . . . . . .
(Ini digunakan, sebelum anda, raganya, manusianya, akan berbuat apa saja - Gelar)
Contoh :
- Seorang Penghayat, dalam menjalani laku, suatu saat dihadapkan pada orang yang meminta pertolongan. Sakit misalnya.
Lalu, dalam rasanya, merasa diperkenankan menolong.
Mijilnya :
(Asmo), jeneng siro mijilo, panjenengan Ingsun kagungan karso, arso “ngusadhani ragane manungso aran . . . . . . . . . . . . . . keparengo waras”.
Jadi, yang ngusadhani, bukan manusianya, tetapi Ingsun, yaitu hidupnya.
Itu cuma contoh. Titik titik sesudah kata arso, boleh diisi dengan bahasa apapun. Bahasa Ibu dari penghayat yang bersangkutan.
Contoh itu, tidak berarti bahwa Penghayat ini, akan jadi dukun, tugasnya mengobati orang. Sama sekali tidak.
- Misalnya mau makan, yang makan adalah raganya, maka Mijilnya:
(Asmo) jeneng siro mijilo, panjenengan Ingsun kagungan karso, raganiro “arso mangan”.
(Kaserepo kabeh sari-sarine kang dhipangan, ndhadhekake waras lan kuate raganiro”).
Itu semua, kalau anda sudah bisa Mijil.
|