Kapribaden Header
Home Romo Herucokro Semono Kapribaden Organisasi Pengalaman Sejati Tanya Jawab F.A.Q. Kontak
 
Home » Kapribaden » Buku Hidup Bahagia » Halaman 12
 
Buku Hidup Bahagia
   
Halaman : [1] ... [10] [11] [12] [13] [14] ... [33]
 

 

Jadi, “Kunci” itu bukan merupakan buah hasil pikiran Romo Semono.

Maka, kalau satu suku kata saja berubah, sudah bukan “Kunci” Hidup lagi, dan tidak akan ada gunanya.

Oleh karena itu, sampai saat ini, semua yang menghayati Laku Kasampurnan ini, apapun suku, bangsa dan bahasanya, dalam menggunakan Panca Gaib, diantaranya “Kunci”, harus tepat seperti apa adanya.

Tidak perlu, artinya tidak ada gunanya, kata kata dalam “Kunci” diartikan. Hal ini justru hanya akan mempersulit dan menghambat penghayatan kita.  Apalagi diterjemahkan.

“Kunci” itu berupa kata kata, hanya disebabkan karena Romo Semono yang menerima, diwajibkan meneruskan kepada sesama manusia, yang menghendaki.                       

Sebenarnya “Kunci” itu Gaib.  Kalau tanpa disertai kata kata kita tidak mampu  menerimanya.

Tidak perlu dipikirkan arti dari kata-katanya.

Romo Herucokro Semono sendiri pernah menegaskan :
“ Kunci iku dhudhu unine, dhudu unen-unene, nanging kang mahanani uni” (Kunci itu bukan bunyinya, bukan kata-katanya, tetapi yang menyebabkan adanya bunyi).

Bahkan Romo Herucokro Semono pernah pula menyatakan :
“Upomo Kunci iku kudhu kaparingake marang wedus, mbokmenowo unine embek.” (Seandainya Kunci itu harus diberikan kepada kambing, barangkali bunyinya embek).


Kata-kata “Kunci”
:

Gusti ingkang Moho Suci,
Kulo nyuwun pangapuro dumateng Gusti ingkang Moho Suci;
Sirolah, Dhatolah, Sipatolah;
Kulo sejatine satriyo / wanito,
nyuwun wicaksono, nyuwun panguwoso,
kangge tumindhake satriyo/wanito sejati;
Kulo nyuwun, kangge anyirnakake tumindhak ingkang luput.


Catatan
:
Agar tidak terjadi salah faham :

Kata kata Sirolah, Dhatolah, Sipatolah, olah-nya dari kata seperti olah - olah, olah - rogo, dan semacamnya yang artinya “obah” atau gerak.

“Anyirnakake tumindhak ingkang luput”
, maksudnya “lupute dewe”, salah pada diri sendiri.

Ada yang menggunakan :
“hanyirnakake”,

Boleh saja, silahkan dicoba, mana yang dirasakan lebih pas/cocok, bagi dirinya masing masing.

Lain-lainnya, satu suku kata saja, tidak boleh berubah.

Bahkan orang orang asing, lafalnyapun harus benar.

Tidak boleh di sini, artinya, kalau berubah, tidak ada gunanya sama sekali, karena sudah bukan “Kunci” lagi.

Kata “satriyo” digunakan oleh Pria dan kata “wanito” digunakan oleh Wanita.

 

Copyright © 2005-2026 Kapribaden - V.1.9. All rights reserved.