Akhirnya bermacam penyakit timbul sebagai akibatnya. Bahkan kelainan jiwa selalu menghinggapi sebagian besar manusia yang menamakan dirinya modern.
Kalau ingin selalu merasakan kebahagiaan Sejati, ikutilah kehendak Hidup. Karena Hiduplah yang tahu, apa yang terbaik bagi diri kita masing masing, menurut Maha Hidup, yaitu Tuhan Yang Maha Esa.
Bagaimana caranya agar Manusia bisa kenal dan mengenal Hidup yang ada dalam dirinya?
Itulah yang pada umumnya tidak diketahui orang.
Kenal, lalu mengenal Hidup, yang ada dalam diri kita, kemudian bisa berkomunikasi, berhubungan dengan Hidup kita sendiri, lalu bisa menerima petunjuk dari Hidup, dilindungi (“dhiayomi”), oleh Hidup. Itulah yang akan diuraikan dalam bab bab berikut dari buku ini.
Dan itu baru berguna, kalau kita ingin dan bertekad mau menjadi Manusia baru, Manusia yang dilahirkan kembali.
Menjadi Insan Spiritual, yaitu Hidup yang berbaju daging, tulang dan saraf, dan tidak lagi menjadi Insan Materiil, yaitu daging, tulang dan saraf yang dihidupi. “A Spiritual Being”, with flesh, bone and nerves, and not only as “A Living flesh, bone and nerves”.
Kalau itu yang menjadi keinginan, tujuan utama manusianya, maka barulah bab bab berikut dalam buku ini berguna.
MENGENAL “ H I D U P “
Hidup itu Gaib, maka tidak bisa dikenali dengan perabot pada diri kita, yang bersifat ragawi (materiil). Jadi, tidak bisa ditangkap oleh Panca Indera kita, keberadaannya (eksistensinya).
Telah diuraikan di depan, bahwa Hidup itu kuasanya Gerak, letaknya (“lungguhe”) berada di Rasa. Jadi hanya bisa dirasakan.
Yang dimaksud dengan Rasa dalam buku ini, bukan rasa yang merupakan salah satu indera dari panca indera, sense, tetapi Rasa yang ada di dalam diri kita, feeling.
Kita semua merasa, sebagai Orang Hidup. Dan kita pasti mengakui, bahwa kalau ditinggalkan Hidup, kita mati. Dan kalau kita Mati, semua yang ada pada diri kita, kepandaian, pengalaman, kehebatan, derajat-pangkat, kehormatan, kedudukan sosial, harta-benda, bahkan orang orang yang kita cintai, semua tidak berarti lagi. Semua tidak punya nilai lagi bagi kita.
Semasa masih hidup, kita bisa seperti sekarang ini karena dalam diri kita masih ada Hidup (“Isih kalenggahan Urip”).
Penulis bisa menulis buku ini, karena ada Hidup dalam dirinya. Pembaca bisa membaca ini, karena ada Hidup dalam diri pembaca.
Maka, marilah kita akui keberadaan Hidup itu, dan dengan jujur kita akui pula betapa sangat pentingnya peranan Sang Hidup itu pada diri kita.
Marilah kita berhenti memperbudak Hidup, dan kita mulai menjadikan diri kita sebagai Abdhinya Hidup.
|