Kapribaden Header
Home Romo Herucokro Semono Kapribaden Organisasi Pengalaman Sejati Tanya Jawab F.A.Q. Kontak
 
Home » Kapribaden » Kapribaden itu apa ? » Halaman 2
 
Tentang Kapribaden
   
Halaman : [1] [2] [3]
 

 

Selanjutnya gunakan KUNCI itu dengan sungguh-sungguh. Jangan percaya tetapi jalani dan buktikan sendiri. Kita akan selalu dituntun, diberi petunjuk oleh urip kita dalam menjalani kehidupan dan penghidupan sehari-hari. Kalau tidak mendapat bukti dalam kehidupan dan penghidupan sehari-hari, jangan diteruskan. Tidak ada resiko apapun kalau berhenti.

Kalau memang sudah yakin karena membuktikan dan merasakan sendiri, silahkan meminta kelanjutannya.
Badan atau Raga kita sejak lahir diberi nama oleh orang tua kita. Karena orang tua kita tidak bisa mengetahui adanya urip atau roh dalam diri kita. Maka urip kita tidak diberi nama.

Kalau memang sudah yakin karena membuktikan dan merasakan sendiri, silahkan meminta kelanjutannya.

Badan atau Raga kita sejak lahir diberi nama oleh orang tua kita. Karena orang tua kita tidak bisa mengetahui adanya urip atau roh dalam diri kita. Maka urip kita tidak diberi nama.

Kelanjutan dari diberikannya KUNCI adalah urip kita diberi nama, yang disebut ASMO.

Kalau baru mendapat KUNCI raga diberi tuntunan dan petunjuk urip (satu arah), maka sesudah uripnya diberi ASMO, kita bisa MIJIL (menyatukan atau menyambungkan raga dengan urip) sehingga Raga mau berbuat apa saja bisa bertanya dulu kepada urip. Selanjutnya tinggal menurut dan menuruti segala kehendaknya urip. Akal Pikiran dan lain-lain kerjanya panca Indera dan Otak hanya menjadi alat, tidak lagi menjadi penguasa bagi diri kita.

Urip berasal dari Tuhan, maka menurut dan menuruti urip tidak bisa jelek, tidak bisa salah. Yang bisa jelek dan salah adalah manusianya.

Kita semua ini berasal dari YANG SATU, YANG ESA. Urip kita semua sama, yang berbeda bajunya urip yaitu raga kita.

Raga (termasuk otak) sebagai bajunya urip berbeda-beda, seperti baju kita yang berbeda merknya, berbeda warnanya, berbeda coraknya, berbeda potonganya, berbeda jahitannya, modelnya dan sebagainya. Demikian juga raga kita. Tetapi sebenarnya kita sama.

Untuk bisa menjalani semua itu dengan lancar, badan kita harus selalu dibersihkan.

Pencuci raga bukan sabun, shampo, tetapi laku Sabar (seperti seorang Ibu mengandung), Narimo (berusaha semaksimal mungkin tetapi apa dan berapa hasilnya, serahkan kepada kehendak Tuhan atas diri kita), Mengalah (bisa ikut merasakan senangnya orang yang dikalahi. Hanya orang menang yang bisa mengalah), Cinta Kasih kepada apa dan siapa saja (benda, pekerjaan, tanaman, binatang, apalagi sesama manusia harus kita cintai), Ikhlas (setiap saat merasa tidak punya apa-apa (isteri/suami, anak, derajat-pangkat, harta-benda, ketenaran nama, kepandaian, pengalaman, semuanya hanya titipan Tuhan. Jadi setiap saat siap digunakan sesuai kehendak Tuhan).


UNTUK APA MENJALANI LAKU KAPRIBADEN ?
Kalau benar-benar mau menurut dan menuruti karsanya Urip, maka dalam kehidupan dan penghidupan sehari-hari kita akan selamat dan tentrem diayomi oleh Urip.
Dan kalau sewaktu-waktu kita mati, raga akan segera lebur kembali ke asalnya, yaitu tanah, air, hawa dan api, sedang urip (roh) kita akan langsung manunggal dengan Tuhan (mencapai Kasampurnan Jati), tidak gentayangan (nglambrang) di alam antara (apapun disebutnya).

 
Anda Pengunjung Ke : 683252
Copyright © 2005-2008 Kapribaden - V.1. All rights reserved.