Kapribaden Header
Home Romo Herucokro Semono Kapribaden Organisasi Pengalaman Sejati Tanya Jawab F.A.Q. Kontak
 
Home » Kapribaden » Buku Hidup Bahagia » Halaman 31
 
Buku Hidup Bahagia
   
Halaman : [1] ... [29] [30] [31] [32] [33]
 

 

M I J I L (sudah mencakup Asmo)

Masih banyak yang memperlakukan Mijil sebagai mantera.

Misalnya, mau pergi, Mijil dulu. Asal sudah mengucapkan kata-katanya Mijil, langsung pergi.

Padahal, maksudnya Mijil, agar seseorang, sebelum berbuat sesuatu, mendapat Petunjuknya Hidup.

Boleh atau tidak. Kalau bolehpun, akan mendapat petunjuk, apa, berapa, bagaimana, selanjutnya.

Contoh :
Kita mau pergi ke suatu tempat. Kita Mijil, dan tetap “hening”, lalu mendapatkan rasa, diijinkan. Rasa juga memberi petunjuk, agar lewat jalan tertentu. Barulah kita pergi.

Seseorang minta bantuan kita, sedang kita memang mampu dan bisa memberikan bantuan itu. Misalnya berupa uang.

Kita Mijil. Akan kita terima di rasa, boleh atau tidak. Kalau tidak, mungkin saja karena bantuan kita itu akan dia gunakan yang tidak baik dan tidak benar. Kalau diijinkanpun, kita akan mendapat petunjuk berapa besarnya bantuan itu yang seharusnya (menurut Hidup) kita berikan.

Dengan Mijil yang benar seperti itu, tujuannya agar jangan sampai kita berbuat “luput”, berbuat salah menurut ukuran Hidup (ukuran yang paling baik dan paling benar = beciking-becik lan benering bener).


S I N G K I R

Masih banyak yang menerima wulang-wuruk Romo Herucokro Semono, yang diberikan dengan “sanepan” , kiasan, diterima mentah mentah.

Singkir digunakan untuk menghadapi bahaya angin taufan (lesus), bahaya api (kebakaran), gempa bumi (lindu) dan gunung meletus. Ini kiasan, “sanepan”.

Yang dimaksud adalah di dunia kecil, jagad cilik, micro cosmos, yaitu diri kita sendiri.

Angin taufan, adalah suara yang tidak enak didengar. Misalnya fitnah, cacian, celaan, sindiran, bahkan kritikan terhadap diri kita. Akibatnya, api berkobar dalam diri kita. Kita jadi tidak tenang, yang berarti dunia kita gempa bumi. Kalau sudah tidak tahan, mulut kita akan meledak, buruk, yang berarti gunungnya meletus.

Semua itu, disebabkan karena “AKU” dalam diri kita yang bekerja (makarti). Jadi itu kelakuan Sang “AKU”.

Untuk mengurangi sebanyak mungkin terjadinya angin taufan, api, gempa dan meletusnya gunung diri kita itu, diberikanlah Singkir.

 
Anda Pengunjung Ke : 850060
Copyright © 2005-2008 Kapribaden - V.1. All rights reserved.