Kapribaden Header
Home Romo Herucokro Semono Kapribaden Organisasi Pengalaman Sejati Tanya Jawab F.A.Q. Kontak
 
Home » Kapribaden » Buku Hidup Bahagia » Halaman 30
 
Buku Hidup Bahagia
   
Halaman : [1] ... [28] [29] [30] [31] [32] [33]
 

 

Dalam kegiatan apapun, tanpa direncana tanpa diatur. Masing-masing mengikuti Rasanya. Gaib yang mengatur. Dan hasilnya, apa yang dilakukan para penghayat itu, saling isi-mengisi, semuanya lengkap, terpenuhi, dan hasilnyapun membuat bahagia semua orang.

Kunci, Asmo, Mijil, Singkir, Paweling itu bukan doa, bukan “rapal”, bukan mantera atau mantram.


KUNCI

Sering dikatakan, “Moco Kunci ping pitu, nanging pitu iku dhudhu etungan”. (Membaca Kunci tujuh kali, tetapi tujuh itu bukan hitungan).

Yang dimaksud :
“Membaca” Kunci, harus sampai benar-benar dirasakan, bahwa 7 (tujuh) lapis Raga, masing-masing, dan seluruhnya, menyembah kepada Hidup.

Jadi, benar-benar sampai terasa. Rasanya kalau 7 lapis Raga, seluruhnya sudah terkena dayanya Kunci, dan menyembah dalam arti pasrah kepada Hidup.

Kalau “membaca” Kunci masih bisa menghitung, berarti masih “membaca” dengan pikirannya, belum dengan Rasa. Rasa tidak pernah bisa dihitung.

Contoh :
Kita bisa menghitung buah sawo, tetapi kita tidak bisa menghitung rasanya sawo.

Banyak orang yang menggunakan Kunci, masih memperlakukannya sebagai “rapal” atau mantera. Asal kata-katanya sudah “dibaca” dalam batin.

Banyak juga yang “membaca” Kunci masih dihitung.

Sekalipun yang demikian itu juga mendapat pembuktian (paseksen), tetapi bukan itu yang sebenarnya.

Kalau “membaca” Kunci dengan Rasa maka tidak dihitung, sampai berhenti sendiri. Jangan dipikir, sampai di mana berhentinya, apalagi sudah berapa kali saat berhenti. Asal sudah berhenti, artinya 7 (tujuh) lapis Raga sudah seluruhnya menyembah dan berserah diri (pasrah) kepada kuasa dan pengayomannya Hidup.

Kalau berlatih “membaca” Kunci begini lama kelamaan kita bisa “membaca Kunci dalam waktu singkat sekali. Bahkan tanpa kata-kata (unen-unen) Kunci lagi.

Terbuktilah apa yang dikatakan Romo Herucokro Semono, bahwa “Kunci” iku dhudhu unine, dhudhu unen-unene, nanging kang mahanani uni” (Kunci itu bukan bunyinya, bukan kata-katanya, tetapi yang menyebabkan bunyi). Jadi Gaib.

Jangan terjerumus, menjadikan “membaca” Kunci sebagai Ritus (cara ritual). Rutinitas ritual, sering menjerumuskan kita pada pendangkalan penghayatan. Hanya kulitnya dan tidak rasanya.

 
Anda Pengunjung Ke : 850062
Copyright © 2005-2008 Kapribaden - V.1. All rights reserved.