Kapribaden Header
Home Romo Herucokro Semono Kapribaden Organisasi Pengalaman Sejati Tanya Jawab F.A.Q. Kontak
 
Home » Kapribaden » Buku Hidup Bahagia » Halaman 29
 
Buku Hidup Bahagia
   
Halaman : [1] ... [27] [28] [29] [30] [31] ... [33]
 

 

Romo Herucokro Semono :

“Nek beras sak las dhideplok, mesti ajur. Nanging nek beras sak lumpang, jenenge dhisosoh. Ora amargo soko alune utowo lumpange, nanging amargo gosok ginosok antarane las siji karo sijine, dhadhi podo mlecete, dhadhi podo putihe”.
(Kalau sebutir beras ditumbuk pasti hancur, tetapi kalau banyak, ditumbuk, bukan karena penumbuknya atau tempatnya, melainkan butir yang lain, lalu sama sama terkelupas, sama sama menjadi putih)


Jadi saling gosok (gosok-ginosok) antara sesama kadhang, akan sangat mempercepat proses laku kita.

Memang, digosok itu tidak enak, kadang kadang agak sakit, tetapi kalau kita takut tergosok, kita tidak akan pernah jadi putih (bersih).


Kebersamaan sesama penghayat Laku ini

Seorang penghayat dengan penghayat lain disebut “Kadhang”.
“Kadhang” di sini, artinya seseorang yang hubungannya melebihi saudara kandung.

Romo Herucokro Semono :
“Sedhulur sakringkel iku sing podo mung kulit-dhaginge, dhadhi bisa bosok, nek kadhang iku Uripe, dhadhi tansah rante-rinante rasane”.
(Saudara kandung itu yang sama hanya kulit-dagingnya, jadi bisa busuk, kalau kadhang itu Hidupnya, jadi seperti mata rantai, yang rasanya selalu berhubungan).

Kebersamaan para penghayatnya dinamakan “Kekadhangan”.
“Kekadhangan” ini terbentuk secara alamiah, kalau masing masing memang benar benar mengikuti Hidup.

Di depan sudah dikatakan, bahwa Hidup itu sama, sebenarnya Satu.

Maka, kalau masing masing mengikuti Hidup, akan tertarik untuk menyatu. Bukan cuma bersatu.

Menyatunya sesama Penghayat menimbulkan ke-Guyub-Rukunan yang murni. Tidak dibuat-buat; bukan karena ada pamrih, dan lebih lebih tidak karena dipaksa.

Segala perbedaan lahiriah hampir tidak nampak dan tidak terasa. Kalaupun masih ada, hanya terbatas pada sikap yang didasarkan pada etika (sopan-santun, tata-krama). Yang muda menghormati yang tua, yang tua menghargai yang muda.

Yang tua dihormati karena memiliki kematangan jiwa disebabkan pengalaman dan kedalaman lakunya (“temuwo”), sedang yang muda dihargai karena kelebihan kepandaian dan semangatnya untuk menimba sebanyak-banyaknya, serta kemampuannya untuk bergerak aktif, dinamis, dan kreatif.

 
Anda Pengunjung Ke : 850057
Copyright © 2005-2008 Kapribaden - V.1. All rights reserved.