Kapribaden Header
Home Romo Herucokro Semono Kapribaden Organisasi Pengalaman Sejati Tanya Jawab F.A.Q. Kontak
 
Home » Kapribaden » Buku Hidup Bahagia » Halaman 28
 
Buku Hidup Bahagia
   
Halaman : [1] ... [26] [27] [28] [29] [30] ... [33]
 

 

BEBERAPA CATATAN SEBAGAI PENJELASAN


Laku Gelar-Gulung

Gelar artinya yang lahiriah. Gulung artinya yang spiritual, yang gaib.

Penghayat Laku Kasampurnan Manunggal Kinantenan Sarwo Mijil, lakunya Gelar-Gulung.

Artinya :
Apapun yang diterima Gulung, yaitu karsanya Hidup yang tertangkap Rasa, segera di Gelarkan, dilaksanakan.

Catatan :
Karsanya Hidup (“dawuhe Urip”), apabila diterima (di Rasa, juga disebut Roso Jati), harus segera dilaksanakan.

Kalau ditunda pelaksanaannya, kita tidak akan mendapat bukti kebenaran “dawuh” itu. Tidak akan terjadi, “dawuh” diberikan, tetapi belum waktunya (belum “titi wanci”). Hidup tidak akan memberikan “dawuh”-nya, kalau belum waktunya dilaksanakan.

Itu yang disebut “nggelarake gulung”. Maka ada rumus bagi Putro (penghayat laku ini), yaitu :

Krenteg, Budhi, Ono
(Timbul rasa, tergerak rasanya, langsung bertindak, dilaksanakan, akan ada buktinya).

Sebaliknya :
Apapun yang dialami, dihadapi, harus selalu di-Gulung. Artinya, apapun yang kita alami, kita hadapi, harus Mijil, untuk ditanyakan kepada hidup, apa sebenarnya makna dari kejadian yang kita alami atau hadapi itu.

Ini yang dinamakan “Nggulung samubarang kang sipat Gelar” (meng-Gulung yaitu mengecek ke dalam, semua yang bersifat lahiriah).

Jadinya, kita tidak gegabah menyimpulkan segala sesuatu yang kita alami, kita hadapi, karena kita tahu, makna dan maksud yang tersembunyi di balik kejadian itu. Dengan bahasa lain, kita tahu, apa yang sebenarnya menjadi kehendak Tuhan, yang diterima oleh Hidup dalam diri kita.

Sering, kita alami kejadian yang tidak mengenakkan diri kita. Setelah di Gulung, kita tahu, bahwa sebenarnya itu merupakan peringatan atau petunjuk dari Tuhan. Dan ini, hanya Hidup yang tahu. Ini sebenarnya yang disebut menemukan hikmah dari segala kejadian. Bukan dengan menghubung-hubungkan melalui pikiran kita (“ngotak-atik gatuk”).


Melatih laku kita

Arena paling baik untuk berlatih menjalani laku ini, adalah dalam keluarga kita masing masing. Kalau dalam keluarga kita sendiri, kita sudah bisa seperti digambarkan didepan, kita melatih diri di arena yang lebih luas. Misalnya di tempat kita bekerja, atau di dalam kita bermasyarakat.

Tetapi, ada arena yang sangat efektif untuk berlatih, yaitu dalam Sarasehan bersama-sama kadhang kadhang kita.

 
Anda Pengunjung Ke : 0
Copyright © 2005-2008 Kapribaden - V.1. All rights reserved.