Kapribaden Header
Home Romo Herucokro Semono Kapribaden Organisasi Pengalaman Sejati Tanya Jawab F.A.Q. Kontak
 
Home » Kapribaden » Sejarah Kapribaden » Halaman 2
 
Sejarah Kapribaden
   
Halaman : [1] [2]
 

 

Sebelum peresmian, Putro Putro Jakarta sowan Romo dulu untuk mohon petunjuk.

Kemudian, Dr. Wahyono diantar Bapak S. Hoetomo, menggunakan kendaraan kadhang Hendra Yudianto, yang juga ikut, 2 bulan keliling ke daerah-daerah, tanpa pulang, untuk membentuk Paguyuban di daerah-daerah, sekaligus mengantarkan pengurus di daerah mendaftar ke 5 instansi pemerintah. Kalau provinsi ke 7 instansi, Pusat ke 9 instansi. Ini agar Kapribaden diakui sah menurut Undang-Undang Negara. Tidak hanya resmi diakui Pemerintah.

Kemudian dengan wadah Paguyuban Penghayat Kapribaden, bisa dipaparkan Paringan dan Wulang Wuluk Romo (secara umum disebut ajaran), sehingga diakui sah, yang berarti sah kalau dijalani, disampaikan kepada orang lain, di wilayah hukum Republik Indonesia.

Itulah sejarah singkat adanya Paguyuban Penghayat Kapribaden. Tentu saja dalam kesempatan ini tidak dibeberkan secara lengkap, termasuk betapa besar kesulitan yang harus dihadapi dan betapa besar pula pengorbanan Putro Putro serta resiko yang dihadapi waktu itu.


 

 
Anda Pengunjung Ke : 696590
Copyright © 2005-2008 Kapribaden - V.1. All rights reserved.