Kapribaden Header
Home Romo Herucokro Semono Kapribaden Organisasi Pengalaman Sejati Tanya Jawab F.A.Q. Kontak
 
Home » Kapribaden » Buku Hidup Bahagia » Halaman 9
 
Buku Hidup Bahagia
   
Halaman : [1] ... [7] [8] [9] [10] [11] ... [33]
 

 

Orang yang seumur hidupnya belum pernah melihat,  belum pernah mendengar tentang mobil, pasti tidak pernah ingin punya mobil.  Gerak usahanya juga tidak akan pernah mengarah untuk bisa memiliki mobil.

Semua manusia, perjalanan hidupnya sama.  Dilahirkan, dibesarkan, menjalani kehidupan dan penghidupan, sebagian besar kawin dan menghasilkan keturunan lalu mengulang perbuatan orang tuanya terhadap dirinya kepada anak-anaknya, kemudian menjadi tua, dan mati.

Tak seorangpun, betapa tinggi pangkatnya, berapapun besar kekuasaannya,  berapapun kekayaannya, bisa mengelak atau menghindar dari jalannya hidup yang demikian itu.

Kalau ada perbedaan, hanyalah dalam “kembangan”-nya saja (variasinya saja).  Sama sama makan, untuk mempertahankan hidup, yang satu di hotel berbintang lima, yang lain di kaki lima.  Sama sama berpakaian untuk melindungi tubuh, yang satu memakai yang bermerk terkenal, yang lain tanpa merk sama sekali.  Sama sama perlu bergerak dari satu tempat ke tempat lain, yang satu naik mobil, yang lain naik sepeda.

Perjalanan itu, menuju ke arah yang sama, yaitu kuburan.   (Langsung  atau melalui dibakar, dikremasi dulu).

Setiap hari, semua orang, berjalan selangkah demi selangkah mendekati kuburan.  Bedanya, ada yang langkahnya cepat, ada yang lambat.  Itu perjalanan  raganya .  Raga, tahunya hanya perjalanan ke kuburan.

Perjalanan “Hidup”, oleh manusia pada umumnya diabaikan.

Hidup yang selalu dipaksa mengikuti segala kehendak raganya, akan terbawa salah-arah.  Hidup hanya diperlakukan sebagai budak, yang harus menurut dibawa kemanapun kehendak Raga-nya.

Padahal, tanpa Hidup , Raga (manusia) tidak bisa apa apa.
Semestinya, yang benar, Hiduplah yang menentukan arah dan langkah, sedang raga hanya mengikuti.  Jadi, Hidup tidak salah arah, menuju kembali ke asalnya, yaitu Tuhan Yang Maha Esa.

Salah arahnya “perjalanan”, karena Hidup dipaksa mengikuti kehendak Raganya, menyebabkan Hidup tidak bisa langsung kembali menyatu (manunggal) dengan Tuhan.

Manusia yang dalam menjalani kehidupan dan penghidupan, tidak sesuai dengan yang dikehendaki Tuhan atas dirinya, “berjalan” zig-zag terlalu lebar.  Keinginan dan kehendak kuat untuk mencapai apa yang dianggapnya baik dan benar, membuat usaha yang berlebihan, pada umumnya mengorbankan kebahagian dirinya, kebahagiaan keluarganya, demi tujuan yang menjadi obsesinya. Tidak sedikit, yang karena terlanjur melangkah ke suatu arah, lalu malu (gengsi) kalau harus mundur atau berbelok arah.  Apapun ditempuhnya, demi mempertahankan harga diri yang tidak pada tempatnya, dengan segalanya dia korbankan.  Masih beruntung kalau tercapai.  Kalau sering kegagalan yang dihadapi, maka kekecewaan demi kekecewaan yang didapat, yang akhirnya menimbulkan stress (tekanan batin).  Selama berusaha menggapai, ketegangan demi ketegangan dialami (strain).

Sementara orang, agar dianggap modern, mengatakan bahwa variasi ketegangan (strain) dan tekanan (stress) adalah seni hidup.  Membuat hidup tidak monoton.  Tetapi tidak sedikit yang melupakan bahwa Raga ada batas kemampuannya.

 
Anda Pengunjung Ke : 0
Copyright © 2005-2008 Kapribaden - V.1. All rights reserved.