Kapribaden Header
Home Romo Herucokro Semono Kapribaden Organisasi Pengalaman Sejati Tanya Jawab F.A.Q. Kontak
 
Home ¬Ľ Kapribaden ¬Ľ Buku Hidup Bahagia ¬Ľ Halaman 8
 
Buku Hidup Bahagia
   
Halaman : [1] ... [6] [7] [8] [9] [10] ... [33]
 

 

Tak ada seorang ibupun, yang mengatakan pada bayinya, agar kalau lapar, menangis.

Tangis bayi, adalah Bahasa-Hidup.  Maka, tidak bisa kita bedakan, tangis bayi Jawa, Sunda, Batak, Amerika, Inggeris, semua sama.  Begitu juga Gerak bayi, adalah gerak-hidup, maka semua bayi sama geraknya.

Mulailah otak bayi mendapat masukan.  Pintu masukkan, melalui Panca Inderanya.  Tergantung masukan yang didapat, maka akan seperti apa nantinya bayi itu jadinya manusia, kanak kanak, sampai dewasa. Masukan bisa dengan sengaja dimasukkan, berupa pendidikan dan pengajaran, bisa juga tanpa disengaja, yaitu apa saja yang ditangkap Panca Inderanya dari lingkungannya.

Masukan itu, termasuk masukan tentang standar norma dan nilai nilai baik-buruk, benar-salah, boleh-dilarang, dan sebagainya.  Termasuk norma dan nilai nilai moral dan etika.  Bahkan juga soal keyakinan Ketuhanan.

Semua masukan itu, terekam dalam memori/otak manusia itu, yang kemudian jadi dasar manusianya dalam bertindak, dalam mengukur segala sesuatu yang dilakukannya, yang dialaminya, bahkan sebagai standar untuk mengukur perbuatan orang lain.

Karena masukannya berbeda, maka manusia berbeda pula dalam mengukur baik buruk, benar salah dan sebagainya.  Hal ini yang selalu menjadikan manusia saling berebut baik, berebut benar.  Baik dan benarnya masing masing saling dipegang teguh dan bahkan menyalahkan standar yang dipakai orang lain.

Kalau kita kembali ke bayi, kita akan menyadari, bahwa tangis bayi itu sama, gerak bayi itu sama, karena tangis itu suara Hidup, gerak itu gerak hidup.  Jadi sebenarnya manusia itu sama.  Berbeda hanya karena masukan yang diterima berbeda.

Hidup itu sama, karena berasal dari Yang Satu, yaitu Tuhan.  Yang berbeda raganya, karena berasal dari tanah, air, hawa yang berbeda pula, serta dari Bapak dan Ibu yang berbeda pula.

Jadi, kalau Manusia mau memakai ukuran atau standarnya Hidup, pasti akan sama dalam menilai segala hal.

Raga bersifat materiil, jadi tidak kekal
.  Satu saat harus hancur dan kembali menjadi tanah, air, hawa dan api.

Hidup, adalah immateriil, bersifat kekal, berasal dari Yang Maha Kekal
.¬† Asalnya dari Tuhan, jadi seyogyanya kalau berpisah dengan raganya, langsung kembali ke Tuhan.¬† Tidak mengembara (‚Äúnglambrang‚ÄĚ) jutaan tahun.
Dalam pengertian di sini, otak dengan pekerjaannya (psyche, jiwa) juga tergolong Raga, karena itu masih merupakan kerjanya organ tubuh yang bersifat materiil.  Jadi akal pikiran (logika dan ratio), termasuk emosi juga ter-golong raga.

Hidup, kuasanya Gerak, letaknya di Rasa.¬† Maka, kalau makhluk-hidup ditinggalkan Hidupnya berhenti segala geraknya, dan¬† kehilangan Rasa-nya (pada tumbuh-tumbuhan gerak akar dan gerak tumbuhnya yang berhenti).¬† ‚ÄúUrip iku kuwasane obah, lenggahe ono ing Roso Jati‚ÄĚ.
Manusia, kemudian juga menerima masukan berupa pendidikan dan pengalaman.

Masukan ini yang mendorong manusia berencana, bercita-cita, dan berusaha meraih apa yang diinginkannya.  Keinginan manusia selalu sesuai dengan masukan yang pernah dia terima.

 
Anda Pengunjung Ke : 0
Copyright © 2005-2008 Kapribaden - V.1. All rights reserved.