Kapribaden Header
Home Romo Herucokro Semono Kapribaden Organisasi Pengalaman Sejati Tanya Jawab F.A.Q. Kontak
 
Home » Kapribaden » Buku Hidup Bahagia » Halaman 5
 
Buku Hidup Bahagia
   
Halaman : [1] ... [3] [4] [5] [6] [7] ... [33]
 

 

Semono yang berusia 14 tahun itu, bertapa di tepi laut Selatan, di Cilacap.  Bekasnya (petilasannya) masih ada sampai saat buku ini ditulis.
Berupa dua rumpun bambu, di dalam kompleks Pertamina.  Pertamina, sekalipun sudah berusaha dengan berbagai cara, tidak bisa  membongkar kedua rumpun bambu itu.

Rumpun Bambu

Semono bertapa selama 3 tahun (1914 - 1917).  Hasilnya mendapat “Cangkok Wijoyo Kusumo”.  Berbentuk seperti bunga kering, berwarna coklat kehitaman.  Kalau dimasukkan air, akan mengembang sebesar tempatnya. 

Semono kecewa, karena bukan itu yang dicari.  Beliau mendapat “wangsit” (ilham), untuk melanjutkan laku sampai tahun kembar 5, dan di timur nantinya akan dia temukan apa yang dia cari.

Baju yang dikenakan Semono selama 3 tahun bertapa, hancur.   Dengan hanya bercawat dedaunan, Semono pulang dengan cara jalan malam. Jadi siang hari sembunyi dan malam harinya jalan, karena takut akan malu kalau bertemu orang.

Sampai di rumah, bukannya dirayakan, tetapi malah sudah disediakan lubang (“luweng”),  lalu pemuda Semono oleh Ki Kasan, ditanam (“dhipendem”), selama 40 hari 40 malam.  hanya diberi batang gelagah untuk bernafas.  Dan setiap usai menanak nasi, Nyi Kasan mengepulkan asap nasi itu ke dalam lubang gelagah.

Selanjutnya,   Semono sambil menjadi Marsose (sekarang marinir),  berkelana, tetap menjalani laku.  Kalau siang dinas, malamnya berendam di laut, menjala.  Tidak pernah dapat ikan.  Itu dilakukannya sampai tahun 1955.

Tanggal 13 malem 14 November 1955, kebetulan jatuh malem Senen pahing, pukul 18.05, banyak orang di Perak Surabaya, terkejut, menyaksikan rumah Letnan KKO ( sekarang Letnan Satu Marinir), terbakar.  Tetapi setelah didekati , ternyata bukan api, melainkan cahaya.  Bahkan ada kereta keemasan (kreto kencono) di langit, yang turun masuk ke rumah Letnan Semono).  Di Jalan Perak Barat No. 93 Surabaya.

Peristiwa itulah yang dikenal sebagai mijilnya Romo Herucokro Semono.

Pernyataan beliau saat Mijil, menyatakan bahwa “Ingsun” Mijil, arso nyungsang bawono balik, arso nggelar jagat anyar.  “Ingsun” (bukan aku) mijil hendak memutar-balikkan jagad (maksudnya jagat kecil, pribadi manusia, micro cosmos), dan hendak menggelarkan dunia baru (micro cosmos baru).

Artinya, kalau selama ini, kita selalu memperbudak Hidup, selanjutnya terbalik, kita sebagai manusia akan menjadi abdi-nya Sang Hidup.

Mulai saat itu,  Romo Herucokro Semono memberikan siapapun yang menghendaki (tidak ada paksaan, tidak menakut-nakuti dengan cara dan jalan apapun),  yang ingin  Hidup bahagia (Tentrem), agar bisa mencapai “Kasampurnan Jati” (moksha) pada saatnya.

Apa yang beliau berikan, akan bisa diikuti dalam bab bab berikut.

 
Anda Pengunjung Ke : 683222
Copyright © 2005-2008 Kapribaden - V.1. All rights reserved.