Kapribaden Header
Home Romo Herucokro Semono Kapribaden Organisasi Pengalaman Sejati Tanya Jawab F.A.Q. Kontak
 
Home » Kapribaden » Buku Hidup Bahagia » Halaman 4
 
Buku Hidup Bahagia
   
Halaman : [1] [2] [3] [4] [5] [6] ... [33]
 

 

 

Romo Herucokro Semono

Romo M. Semono Sastrohadidjojo
( Romo Herucokro Semono )
1900 - 1981


Sebelum tahun 1900, seorang isteri “padhemi” (isteri resmi), dibuang dalam arti diberikan kepada seseorang yang dinilai berjasa.

Itu karena desakan seorang “selir” yang sangat dicintai.

Hal demikian, tidak jarang terjadi pada jaman itu.

Isteri “priyagung” itu bernama Dewi Nawangwulan.  Kepergiannya, disertai seorang dayang (emban), bernama Rantamsari.

Dewi Nawangwulan, dibuang (“dhikendangake”), dan diberikan kepada  Ki Kasandhikromo, yang sering juga disebut Ki Kasan Kesambi, seorang tokoh spiritual pada jamannya, yang berdiam di desa Kalinongko, Gunung Damar, Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Saat dibuang, Dewi Nawangwulan dalam keadaan mengandung.

Lahir bayi yang diberi nama Semono, namun ibunya, Dewi Nawangwulan wafat.  Tidak lama kemudian disusul Rantamsari, dayangnya juga meninggal dunia.

Keduanya dimakamkan di puncak Gunung Damar Purworejo.

Ki Kasandhikromo, tidak pernah mau menganggap, apalagi memperlakukan Dewi Nawangwulan sebagai isterinya.  Tetap dianggap dan dia perlakukan sebagai “ratu” -nya .  Demikian pula isterinya, Nyi Kasandhikromo.

Semono dipelihara dan dibesarkan Ki Kasandhikromo.  Di sekolahkan Sekolah Ongko Loro (SD yang 5 tahun tamat untuk pribumi). Semono yang lahir tahun 1900, harinya Jumat Pahing.  Tidak ada catatan resmi tanggal dan bulannya.  Hal biasa pada jaman itu. 
Semono, semasa sekolah, setiap hari Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon, membolos.  Bukan karena malas atau nakal, tetapi karena malu.

Pada saat matahari tepat di atas, saat semua orang tidak ada bayangannya.  Semono bayangannya 12.  Karena  selalu jadi tontonan teman-temannya, jadi   malu. Maka lebih baik membolos.

Tamat SD itu, langsung diangkat jadi Guru Bantu.

Suatu hari, pemuda Semono yang saat itu berumur 14 tahun (sudah dianggap dan diperlakukan sebagai orang dewasa pada jaman itu), disuruh Nyi Kasan, mengambilkan minyak, di dalam salah satu bilik rumah mereka.  Ternyata, di dalam bilik itu, tertidur lelap seorang gadis kemenakan Nyi Kasan.  Dalam kelelapan tidurnya, kain yang dipakai tersingkap, jadi tubuhnya kelihatan terbuka.

Pemuda Semono, melihat hal itu, “Mengkorok” (Berdiri bulu bulu di tubuhnya).

Semono lalu merenung.  Mempertanyakan, apa sebenarnya yang menggerakkan bulu bulu tubuhnya itu?.

Renungan demi renungan, tidak menemukan jawab.

Akhirnya Semono memutuskan, minta ijin Ki Kasan untuk pergi bertapa.

 
Anda Pengunjung Ke : 696604
Copyright © 2005-2008 Kapribaden - V.1. All rights reserved.